Wednesday, March 11, 2020

Soenarti, Gadis Kecil Yang Menderita

Melihat kembali ke belakang, kejadian kejadian yang pernah terjadi pada masa penjajahan adalah sebuah kenangan pahit untuk para pelaku sejarah. Tidak bisa dihitung oleh jari berapa warga pribumi yang harus mati saat masa penjajahan dulu.

16 April 1813, Ada satu kisah yang sangat tragis saat itu yang di kisah kan kembali oleh seorang gadis kecil bernama Soenarti. Yah gadis tersebut adalah seorang pribumi yang tak berdosa yang harus menjadi korban kekejaman penjajahan Belanda saat itu. Mungkin karena Soenarti merupakan anak hasil hubungan antara pribumi dan prajurit Belanda.

Gambar Hanya Ilustrasi


Terpintas dipikiran bahwa saat itu hubungan antara pribumi dan penjajah merupakan salah satu tidakan yang dilarang, siapapun orang nya akan segera di bunuh tanpa berpikir. Nasib Soenarti yang saat itu berumur sekitar 10 tahun sangat menyayat hati karena dirinya harus kabur dari pembunuhan yang dilakukan oleh Belanda. Saat itu Soenarti harus melihat kedua orang tua nya tewas dan rumah dirinya pun ikut dibakar beserta kedua orang tua nya. Soenarti yang berhasil kabur tidak bisa bernafas dengan lega, tidak lama kemudian Belanda pun menemukan Soenarti di sebuah rumah/gubuk tua dan saat itu Soenarti yang ketakutan melihat kekejaman Belanda hanya bisa menangis.

Tidak lama kemudian sebuah peluru mengenai leher Soenarti dan dalam keadaan yang sudah tidak bisa bertahan lama, pihak Belanda pun membunuh Soenarti dengan menembak sekali lagi di arah kepala bagian belakang Soenarti. Dan akhirnya Soenarti pun tewas dengan 2 kali tembakan pada leher dan kepala nya.

Sejak saat itu Soenarti berdiam diri di rumah tersebut dan tidak pernah keluar karena ketakutan, sampai akhirnya Soenarti bertemu dengan anak yang bisa menerima dirinya walau dirinya bersimpah darah dan sudah terlihat agak menakutkan. Menjalin sebuah persahabtan dengan mereka adalah salah satu cara agar kita memahami sebuah sejarah dan tidak melupakan mereka yang rela mengorbankan nyawa nya demi Indonesia saat ini.

No comments:

Post a Comment